Kesehatan Sperma & Pria

Varikokel dan Pengaruhnya pada Kesuburan Pria: Panduan Medis Lengkap

HagiaMed Research Team
Tim Riset HagiaMed
17 Juni 2026 · 7 menit baca
Varikokel dan Pengaruhnya pada Kesuburan Pria: Panduan Medis Lengkap

Varikokel merupakan salah satu penyebab infertilitas pria yang paling sering didiagnosis. Kondisi ini ditemukan pada sekitar 15% pria dewasa di populasi umum, tetapi prevalensinya melonjak hingga 25–35% pada pria dengan infertilitas primer, serta 50–80% pada kasus infertilitas sekunder. Meskipun terdengar mengkhawatirkan, varikokel adalah penyebab infertilitas pria yang paling bisa diperbaiki secara medis.

Apa itu Varikokel dan Bagaimana Terjadinya?

Varikokel adalah pelebaran abnormal pembuluh darah vena di dalam skrotum, tepatnya pada pleksus pampiniformis — jaringan pembuluh darah vena yang melilit di sekitar saluran sperma dan berfungsi menjaga suhu testis tetap lebih dingin dari suhu tubuh. Kondisi ini terjadi akibat kegagalan katup vena — struktur kecil di dalam pembuluh darah yang berfungsi mencegah darah mengalir balik atau hambatan pada vena spermatika interna — pembuluh darah vena utama yang mengalirkan darah dari testis kembali ke tubuh, sehingga darah menumpuk dan meningkatkan tekanan hidrostatis — tekanan yang ditimbulkan oleh cairan yang diam atau bergerak lambat di dalam pembuluh darah di sekitar testis.

Mengapa Varikokel Merusak Sperma?

Patofisiologi (mekanisme biologis yang menjelaskan bagaimana suatu penyakit merusak fungsi tubuh) varikokel mempengaruhi fungsi testis melalui beberapa cara:

  • Panas Berlebih pada Testis: Penumpukan darah hangat merusak sistem pertukaran panas alami testis, meningkatkan suhu lokal skrotum — kondisi yang disebut hipertermia skrotum — yang mengganggu proses pembentukan sperma (spermatogenesis).
  • Kerusakan Sel Leydig: Peningkatan tekanan vena mengganggu fungsi sel Leydig — sel khusus di dalam testis yang bertugas memproduksi testosteron, yang berujung pada penurunan kadar testosteron intratestikular — kadar testosteron di dalam jaringan testis itu sendiri yang diperlukan untuk pembentukan sperma.
  • Kekurangan Oksigen dan Kerusakan Sel Sperma: Aliran darah yang tersumbat menyebabkan hipoksia — kondisi di mana jaringan testis kekurangan oksigen, yang memicu penumpukan radikal bebas. Kondisi ini disebut stres oksidatif — kondisi di mana kerusakan sel akibat radikal bebas melebihi kemampuan perlindungan alami tubuh, yang merusak integritas DNA sperma.

Dampaknya terlihat pada hasil analisis sperma, yang sering menunjukkan kombinasi dari oligozoospermia (jumlah sperma terlalu sedikit), astenozoospermia (gerakan sperma yang lambat atau tidak aktif), dan teratozoospermia (bentuk sperma yang sebagian besar tidak normal).

Gejala Klinis dan Klasifikasi Derajat Varikokel

Pada sebagian besar pria, varikokel bersifat asimtomatik (tidak menimbulkan gejala yang dirasakan) dan baru terdeteksi saat evaluasi fertilitas. Beberapa pasien melaporkan rasa nyeri tumpul di area skrotum yang memberat saat berdiri lama dan mereda saat berbaring.

Varikokel diklasifikasikan berdasarkan pemeriksaan fisik:

  • Grade I: Hanya terdeteksi saat pasien mengejan dengan teknik Valsalva maneuver — teknik mengejan dengan mulut dan hidung tertutup untuk meningkatkan tekanan di rongga perut, sehingga pembuluh darah vena yang bermasalah lebih mudah teraba.
  • Grade II: Dapat diraba dengan mudah tanpa Valsalva maneuver, namun tidak terlihat secara visual.
  • Grade III: Dapat dilihat dengan jelas secara kasat mata, menampilkan struktur berkelok-kelok menyerupai “kantung cacing” pada skrotum.

Untuk mengonfirmasi keparahan, dokter merekomendasikan USG Doppler Skrotum — pemeriksaan ultrasonografi khusus yang dapat mendeteksi arah dan kecepatan aliran darah di dalam pembuluh vena skrotum. Berdasarkan panduan European Association of Urology (EAU), varikokel terkonfirmasi apabila diameter vena melebihi 3 mm dalam posisi berdiri disertai reflux (aliran darah balik yang tidak normal di dalam pembuluh vena) selama lebih dari 2 detik.

Pilihan Pengobatan: Varikokelektomi dan Embolisasi

Tindakan koreksi dianjurkan bagi pasien yang memiliki varikokel yang teraba, pasangan mengalami infertilitas dengan faktor wanita yang normal atau dapat diobati, serta menunjukkan hasil analisis sperma yang abnormal.

1. Varikokelektomi Bedah Mikro (Microsurgical Varicocelectomy)

Merupakan standar emas (gold standard) terapi varikokel saat ini. Dengan menggunakan mikroskop operasi, dokter melakukan ligasi — pengikatan dan pemotongan pembuluh vena yang melebar secara presisi sambil mempertahankan pembuluh arteri testis dan saluran limfatik. Teknik ini memiliki angka keberhasilan perbaikan sperma tertinggi dengan risiko komplikasi seperti hidrokel (penumpukan cairan di sekitar testis) dan rekurensi (kekambuhan kondisi yang sama) yang paling rendah.

2. Embolisasi Varikokel Perkutan

Prosedur minimal invasif di mana kateter (selang tipis) dimasukkan melalui pembuluh darah di selangkangan atau leher menuju vena testis yang bermasalah, lalu zat khusus disuntikkan untuk menyumbat aliran vena yang melebar. Teknik ini menawarkan waktu pemulihan yang lebih cepat tanpa sayatan bedah terbuka.

Apakah Varikokel Harus Dioperasi Sebelum IVF & ICSI?

Keputusan ini tidak selalu sama untuk setiap pasangan. Jika usia istri masih muda (di bawah 35 tahun), melakukan varikokelektomi terlebih dahulu sangat disarankan. Studi menunjukkan hampir 60% pria yang awalnya memerlukan IVF berhasil memperbaiki kualitas sperma hingga dapat menjalani inseminasi intrauterin (IUI) — prosedur memasukkan sperma langsung ke dalam rahim pada waktu ovulasi untuk meningkatkan peluang pembuahan atau bahkan hamil secara alami dalam 3–6 bulan setelah operasi.

Namun, jika usia istri sudah di atas 37 tahun atau memiliki cadangan ovarium yang rendah, langsung melakukan program IVF & ICSI dapat menjadi pilihan yang lebih efisien dari segi waktu, karena pemulihan proses pembentukan sperma (spermatogenesis) pasca-operasi membutuhkan beberapa bulan.

Referensi

• Salonia, A., et al. (2023). EAU Guidelines on Sexual and Reproductive Health: Male Infertility. European Association of Urology.

• Schlegel, P. N., et al. (2021). Diagnosis and Treatment of Infertility in Men: AUA/ASRM Guideline. Journal of Urology.

• Singgih, N. A. (2023). Diagnosis dan Tata Laksana Varikokel pada Infertilitas Pria. Jurnal Kesehatan Indonesia.

Disclaimer: Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan evaluasi dokter. Keputusan diagnosis dan terapi harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan Anda dan pasangan.

dr. Mona Rizky Oktavia
Ditinjau secara medis oleh:
dr. Mona Rizky Oktavia
Dokter Umum

Konsultasi Gratis HagiaMed

Konsultasi awal gratis 30 menit bersama spesialis kami, tanpa biaya dan tanpa komitmen.

Konsultasi Awal Gratis

Artikel Terkait

Analisis Sperma: Cara Membaca Hasil Pemeriksaan Sesuai Standar Terbaru WHO
Kesehatan Sperma & Pria

Analisis Sperma: Cara Membaca Hasil Pemeriksaan Sesuai Standar Terbaru WHO

16 Juni 2026 8 menit baca
Cara Meningkatkan Kualitas Sperma Secara Alami: Panduan Klinis Berbasis Bukti
Kesehatan Sperma & Pria

Cara Meningkatkan Kualitas Sperma Secara Alami: Panduan Klinis Berbasis Bukti

17 Juni 2026 6 menit baca
Gaya Hidup yang Diam-diam Merusak Kesuburan Pria: Tinjauan Klinis
Kesehatan Sperma & Pria

Gaya Hidup yang Diam-diam Merusak Kesuburan Pria: Tinjauan Klinis

18 Juni 2026 6 menit baca