Analisis sperma (semenogram — pemeriksaan laboratorium lengkap terhadap sampel air mani untuk menilai kualitas dan kuantitas sperma) merupakan pemeriksaan dasar yang paling penting untuk mengevaluasi kesuburan pria. Tes ini memberikan data tentang kapasitas produksi testis, fungsi kelenjar aksesori reproduksi (kelenjar pendukung seperti vesikula seminalis dan prostat yang menghasilkan cairan untuk membawa dan melindungi sperma), serta kelancaran saluran ejakulasi.
Sejak tahun 2021, World Health Organization (WHO) telah menerbitkan panduan laboratorium edisi ke-6 yang membawa beberapa pembaruan parameter penting dibandingkan edisi ke-5 tahun 2010. Memahami cara membaca hasil tes ini membantu pasangan menafsirkan status kesuburan mereka secara lebih objektif.
Panduan Parameter Utama Berdasarkan WHO Edisi ke-6 (2021)
Hasil analisis sperma menyajikan dua kelompok evaluasi utama: evaluasi makroskopis (penilaian tampilan fisik cairan semen seperti volume, warna, dan kekentalan) dan evaluasi mikroskopis (analisis sel sperma di bawah mikroskop, meliputi jumlah, gerakan, dan bentuk). Berikut adalah tabel perbandingan batas normal menurut standar WHO terbaru:
| Parameter Evaluasi | Batas Normal WHO Edisi ke-5 (2010) | Batas Normal WHO Edisi ke-6 (2021) |
|---|---|---|
| Volume Semen | 1.5 mL | 1.4 mL |
| Konsentrasi Sperma | 15 juta sel/mL | 15 juta sel/mL |
| Jumlah Total Sperma | 39 juta per ejakulasi | 39 juta per ejakulasi |
| Motilitas Total | 40% bergerak aktif | 42% bergerak aktif |
| Motilitas Progresif | 32% bergerak lurus ke depan | 30% bergerak lurus ke depan |
| Morfologi Normal | 4% berbentuk sempurna | 4% berbentuk sempurna |
| Vitalitas (Sel Hidup) | 58% sel hidup | 54% sel hidup |
Cara Membaca dan Menafsirkan Parameter Utama
1. Volume Semen
Volume air mani yang dikeluarkan saat ejakulasi normalnya berkisar di atas 1,4 mL. Jika volume sangat rendah (kurang dari 1,0 mL) disertai pH asam, kondisi ini dapat mengindikasikan adanya sumbatan pada duktus ejakulasi (saluran pendek yang menghubungkan vas deferens dengan uretra dan membawa cairan semen keluar saat ejakulasi) atau kelainan bawaan berupa CBAVD (Congenital Bilateral Absence of the Vas Deferens — tidak terbentuknya saluran vas deferens sejak lahir pada kedua sisi).
2. Konsentrasi dan Jumlah Total Sperma
WHO edisi ke-6 menekankan pentingnya menghitung jumlah total sperma dalam satu kali ejakulasi (minimal 39 juta sel), bukan hanya konsentrasi per mililiter. Hal ini karena volume semen yang tinggi dapat mengencerkan konsentrasi sperma secara visual, meskipun jumlah sel sperma total yang diproduksi sebenarnya sudah mencukupi.
3. Klasifikasi Gerakan Sperma (Motilitas)
Gerakan sperma dinilai penting agar sperma mampu berenang melewati leher rahim dan rahim hingga mencapai sel telur di tuba falopi. Pada edisi ke-6, gerakan sperma dibagi ke dalam empat kategori:
- Progresif Cepat: Sperma berenang aktif lurus ke depan dengan kecepatan tinggi.
- Progresif Lambat: Sperma berenang maju tetapi lambat atau sedikit berkelok.
- Non-progresif: Sperma hanya bergerak di tempat tanpa berpindah posisi.
- Imotil: Sperma diam tidak bergerak sama sekali.
Pria dinyatakan dalam batas normal jika persentase sperma dengan gerakan progresif (cepat + lambat) mencapai minimal 30%.
4. Bentuk Sperma (Morfologi)
Sperma yang normal memiliki kepala berbentuk oval yang halus, leher yang lurus, dan ekor tunggal yang panjang. Berdasarkan kriteria Kruger — standar penilaian morfologi sperma yang sangat ketat dan digunakan secara internasional — minimal 4% sperma harus berbentuk sempurna untuk dikategorikan sebagai sampel yang subur.
Istilah Medis Kelainan Hasil Analisis Sperma
- Oligozoospermia: Konsentrasi sperma kurang dari 15 juta/mL — jumlah sperma terlalu sedikit.
- Asthenozoospermia: Persentase gerakan progresif kurang dari 30% — sperma kurang aktif bergerak.
- Teratozoospermia: Persentase morfologi normal kurang dari 4% — bentuk sperma sebagian besar tidak normal.
- Oligoasthenoteratozoospermia (OAT): kelainan kombinasi di mana jumlah, gerakan, dan bentuk sperma semuanya berada di bawah batas normal secara bersamaan.
- Azoospermia: Tidak ditemukan sel sperma sama sekali dalam cairan ejakulasi setelah pemeriksaan sentrifugasi (pemutaran sampel dengan kecepatan tinggi untuk mengumpulkan sperma yang mungkin ada dalam jumlah sangat sedikit).
Pemeriksaan Lanjutan: Sperm DNA Fragmentation (SDF)
Terkadang hasil analisis sperma terlihat normal, namun pasangan tetap mengalami kegagalan implantasi (proses menempelnya embrio ke dinding rahim sebagai awal kehamilan) atau keguguran berulang. WHO edisi ke-6 kini menyarankan pemeriksaan lanjutan berupa Sperm DNA Fragmentation Index (DFI) — tes yang menilai kualitas materi genetik (DNA) di dalam kepala sperma; sperma dengan DNA yang rusak dapat menghambat pembuahan atau perkembangan embrio. Kadar DFI dibagi menjadi:
- DFI ≤ 15% (Rendah/Bagus): Integritas DNA sperma sangat baik.
- 15% < DFI < 30% (Sedang): Masih dapat membuahi, namun risiko kegagalan sedikit meningkat.
- DFI ≥ 30% (Tinggi/Buruk): Berkorelasi kuat dengan penurunan angka pembuahan pada IVF konvensional, kegagalan perkembangan embrio menuju blastokista (tahap perkembangan embrio sekitar hari ke-5 sebelum siap ditanamkan ke rahim), serta peningkatan risiko keguguran dini.
Referensi
• World Health Organization. (2021). WHO Laboratory Manual for the Examination and Processing of Human Semen, 6th Edition. Geneva: World Health Organization.
• Björndahl, L., & Kirkman-Brown, J. (2022). The Sixth Edition of the WHO Manual on Semen Examination: Ensuring Quality and Standardization in Basic Examination of Human Ejaculates. Fertility and Sterility.
• Schlegel, P. N., et al. (2021). Diagnosis and Treatment of Infertility in Men: AUA/ASRM Guideline. Journal of Urology.
Disclaimer: Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan evaluasi dokter. Keputusan diagnosis dan terapi harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan Anda dan pasangan.