Infertilitas didefinisikan WHO sebagai kegagalan mencapai kehamilan setelah 12 bulan atau lebih berhubungan tanpa kontrasepsi. Penyebab infertilitas wanita sangat bervariasi, mulai dari gangguan ovulasi, kerusakan saluran tuba, kelainan rahim, hingga gangguan hormonal.
Penyebab Utama Infertilitas Wanita
- Gangguan Ovulasi: Masalah pada pelepasan sel telur setiap bulan. Contoh paling umum adalah PCOS (Polycystic Ovary Syndrome — sindrom ovarium polikistik, gangguan hormonal yang menyebabkan siklus haid tidak teratur dan banyak folikel kecil di ovarium). Kondisi lain meliputi insufisiensi ovarium dini (kondisi di mana ovarium berhenti berfungsi normal sebelum usia 40 tahun) atau gangguan hormon hipofisis (kelenjar di otak yang mengatur produksi hormon reproduksi).
- Kerusakan Tuba Falopi: Tuba falopi tersumbat akibat infeksi seperti klamidia (infeksi menular seksual yang sering tidak bergejala tetapi dapat merusak saluran reproduksi) atau radang panggul (infeksi pada organ reproduksi wanita bagian atas yang dapat menyebabkan jaringan parut di tuba falopi), operasi panggul sebelumnya, atau penyakit radang perut. Sumbatan ini menghalangi sel telur bertemu sperma.
- Kelainan Rahim: Endometriosis dapat menimbulkan adhesi (perlengketan jaringan akibat peradangan yang membuat organ-organ di panggul saling menempel) di panggul. Sekitar 25–50% wanita dengan infertilitas diketahui memiliki endometriosis. Fibroid rahim (tumor jinak yang tumbuh di dalam atau di dinding rahim) atau septum rahim bawaan (sekat di dalam rongga rahim yang terbentuk sejak lahir dan dapat mengganggu perlekatan embrio) juga bisa mempengaruhi kesuburan.
- Faktor Hormon dan Lainnya: Gangguan hormon tiroid, prolaktin tinggi (hormon yang normalnya diproduksi saat menyusui, tetapi bila terlalu tinggi di luar masa menyusui dapat mengganggu ovulasi), atau kondisi autoimun (kondisi di mana sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri, termasuk organ reproduksi). Usia juga penting — cadangan ovarium menurun signifikan setelah usia sekitar 35 tahun. Pemeriksaan AMH (Anti-Mullerian Hormone — hormon yang mencerminkan jumlah sel telur yang masih tersisa di ovarium) sering dilakukan untuk menilai cadangan ovarium.
Pemeriksaan Awal
Untuk mengetahui penyebab infertilitas, dokter dapat melakukan pemeriksaan berikut:
- Tes Hormon: Pengukuran FSH (Follicle Stimulating Hormone — hormon perangsang pematangan sel telur), LH (Luteinizing Hormone — hormon pemicu pelepasan sel telur), estradiol (hormon estrogen utama yang berperan dalam siklus haid), TSH (Thyroid Stimulating Hormone — hormon yang mengatur fungsi kelenjar tiroid), prolaktin, dan AMH untuk mengevaluasi ovulasi dan cadangan ovarium.
- USG Transvaginal: Pemeriksaan USG menggunakan alat kecil yang dimasukkan ke dalam vagina untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang ovarium dan rahim, termasuk melihat folikel, kista, fibroid, dan tanda-tanda PCOS.
- Histerosalpingografi (HSG): Pemeriksaan X-ray khusus di mana cairan kontras disuntikkan ke dalam rahim untuk melihat apakah tuba falopi tersumbat atau ada kelainan pada rongga rahim.
- Laparoskopi/Histeroskopi: Prosedur bedah minimal invasif — laparoskopi melihat langsung kondisi rongga panggul melalui kamera kecil di perut, sementara histeroskopi melihat bagian dalam rahim melalui kamera yang dimasukkan lewat vagina. Keduanya dapat digunakan untuk mengonfirmasi endometriosis atau mengangkat adhesi.
Dengan hasil pemeriksaan yang lengkap, tim medis dapat menentukan langkah program hamil yang paling sesuai untuk kondisi Anda.
Konsultasi Gratis HagiaMed — konsultasi awal gratis bersama spesialis kami, tanpa biaya dan tanpa komitmen.
Disclaimer: Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan evaluasi dokter. Keputusan diagnosis dan terapi harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan Anda dan pasangan.