Azoospermia

Micro-TESE: Harapan Baru untuk Menangani Azoospermia Non-Obstruktif

HagiaMed Research Team
Tim Riset HagiaMed
17 Juni 2026 · 8 menit baca
Micro-TESE: Harapan Baru untuk Menangani Azoospermia Non-Obstruktif

Azoospermia adalah kondisi ketika sperma tidak ditemukan dalam cairan ejakulasi, yang dikonfirmasi melalui sentrifugasi (pemutaran sampel dengan kecepatan tinggi untuk mengumpulkan sperma yang mungkin ada dalam jumlah sangat sedikit) pada minimal dua analisis semen berturut-turut. Kondisi ini dibagi menjadi dua tipe: obstruktif (ada sumbatan fisik pada saluran reproduksi, tetapi testis masih memproduksi sperma) dan NOA (Non-Obstructive Azoospermia — azoospermia non-obstruktif, di mana testis memang tidak memproduksi sperma secara normal). NOA mencakup sekitar 60% dari seluruh kasus azoospermia dan selama ini dianggap sebagai penyebab infertilitas pria yang sulit ditangani.

Mengapa NOA sulit ditangani dan bagaimana micro-TESE mengatasinya

Pria dengan NOA umumnya menunjukkan tanda-tanda berupa kadar hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone) yang tinggi — ini adalah respons tubuh akibat testis yang tidak berfungsi normal — serta kadar testosteron yang rendah dan ukuran testis yang mengecil. Pada NOA, produksi sperma di dalam testis tidak merata, melainkan bersifat fokal — artinya hanya ada di kantung-kantung kecil tertentu yang tersebar di antara jaringan testis yang tidak aktif. Inilah mengapa biopsi acak konvensional sering gagal menemukan sperma.

Inovasi bedah mikro melalui micro-TESE (Microdissection Testicular Sperm Extraction — pengambilan sperma dari testis menggunakan mikroskop dengan pembesaran tinggi), yang diperkenalkan pada tahun 1998, merevolusi penanganan kondisi ini. Dengan pembesaran 20–25 kali, dokter dapat memeriksa seluruh jaringan testis dan mengidentifikasi tubulus (saluran kecil di dalam testis tempat sperma diproduksi) yang masih aktif berdasarkan penampilan visualnya — tubulus sehat terlihat lebih lebar, lebih tebal, dan berwarna putih pekat, sementara yang tidak aktif tampak tipis dan transparan. Cara ini meminimalkan kerusakan jaringan dan menjaga fungsi hormonal testis setelah operasi.

Seberapa besar peluang keberhasilan micro-TESE?

Keberhasilan micro-TESE diukur melalui SRR (Sperm Retrieval Rate — persentase keberhasilan menemukan sperma yang dapat digunakan untuk pembuahan). Rata-rata SRR global untuk micro-TESE berkisar antara 30–63%, menjadikannya sekitar 1,5 kali lebih efektif dibandingkan biopsi konvensional. Pada perbandingan langsung, micro-TESE mencapai SRR 47% dibandingkan biopsi acak konvensional yang hanya 30%.

Beberapa faktor klinis yang mempengaruhi peluang keberhasilan:

Pertama kali vs. operasi berulang. Pasien yang menjalani micro-TESE untuk pertama kalinya memiliki peluang keberhasilan jauh lebih tinggi (64,6%) dibandingkan yang menjalani prosedur berulang (28,8%). Pasien dengan operasi berulang umumnya lebih tua, memiliki riwayat merokok lebih banyak, dan profil hormonal yang lebih buruk.

Faktor genetik. Pria dengan NOA akibat sindrom Klinefelter (kelainan kromosom 47,XXY — di mana pria memiliki satu kromosom X ekstra) menunjukkan SRR sekitar 47% di pusat yang berpengalaman. Sebaliknya, pria dengan mikrodelesi wilayah AZFc pada kromosom Y (penghapusan sebagian kromosom Y yang berperan dalam produksi sperma) memiliki peluang keberhasilan yang paling rendah.

Jumlah sperma yang ditemukan. Jika sperma yang ditemukan sangat sedikit (kurang dari 20 sel), tingkat kelahiran hidup kumulatif (cLBR — persentase kehamilan yang berhasil lahir hidup setelah seluruh siklus transfer embrio) hanya mencapai 28,1%. Bila lebih dari 20 sel sperma ditemukan, cLBR meningkat signifikan menjadi 51,9%.

Terapi hormon sebelum operasi dan penggunaan sperma beku

Beberapa dokter merekomendasikan terapi hormon sebelum operasi menggunakan Clomiphene Citrate (CC) — obat yang merangsang tubuh untuk memproduksi lebih banyak hormon FSH dan LH, yang pada akhirnya meningkatkan kadar testosteron di dalam testis. Meskipun CC terbukti meningkatkan kadar testosteron pasien NOA, analisis statistik menunjukkan tidak ada peningkatan SRR yang signifikan antara kelompok yang menggunakan CC (SRR 25,9%) dibandingkan kelompok tanpa terapi hormonal (SRR 31,0%).

Setelah sperma berhasil ditemukan, sperma dapat dibekukan untuk digunakan kemudian. Meskipun sel sperma dari NOA rentan terhadap kerusakan saat proses pembekuan dan pencairan, data klinis menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada tingkat kelahiran hidup antara sperma beku (47,5%) dan sperma segar (42,9%). Tingkat cacat bawaan lahir pada bayi hasil teknik ini juga sangat rendah (1,43%), menegaskan keamanan jangka panjangnya.

Perbandingan hasil micro-TESE pertama kali vs. berulang

VariabelPertama KaliBerulangKeterangan
Angka keberhasilan menemukan sperma (SRR)~64,6%~28,8%Berbeda signifikan
Kadar hormon FSH basalMedian 14,0 IU/LMedian 18,0 IU/LBerbeda signifikan
Kadar hormon LH basalMedian 12,0 IU/LMedian 19,0 IU/LBerbeda signifikan
Kadar testosteron totalMedian 3,0 ng/mLMedian 2,2 ng/mLBerbeda signifikan
Riwayat merokok33%59%Berbeda signifikan
Kasus sindrom Klinefelter~40%~20%Berbeda signifikan

Langkah Selanjutnya

Jika Anda terdiagnosis azoospermia non-obstruktif, diskusikan dengan dokter spesialis urologi reproduksi mengenai kelayakan Anda menjalani prosedur micro-TESE serta persiapannya.

Konsultasi Gratis HagiaMed — konsultasi awal gratis bersama spesialis kami, tanpa biaya dan tanpa komitmen.

Referensi

• Predictors of sperm retrieval success in first-time and repeated micro-TESE for nonobstructive azoospermia. PMC.

• Does Clomiphene citrate administration increase the success rate of microdissection testicular sperm extraction in non-obstructive azoospermic men? PMC.

• Non-Obstructive Azoospermia and the Impact of micro-TESE. Irish Medical Journal.

• Clinical Outcomes and Live Birth Rate Resulted From Microdissection Testicular Sperm Extraction With ICSI-IVF in Non-Obstructive Azoospermia. Frontiers.

Disclaimer: Informasi ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan evaluasi dokter. Keputusan diagnosis dan terapi harus disesuaikan dengan hasil pemeriksaan Anda dan pasangan.

dr. Mona Rizky Oktavia
Ditinjau secara medis oleh:
dr. Mona Rizky Oktavia
Dokter Umum

Konsultasi Gratis HagiaMed

Konsultasi awal gratis 30 menit bersama spesialis kami, tanpa biaya dan tanpa komitmen.

Konsultasi Awal Gratis

Artikel Terkait

Azoospermia: Penyebab, Diagnosis, dan Program Hamil
Azoospermia

Azoospermia: Penyebab, Diagnosis, dan Program Hamil

18 Juni 2026 8 menit baca
Azoospermia Bisa Punya Anak? Peluang dan Jalurnya
Azoospermia

Azoospermia Bisa Punya Anak? Peluang dan Jalurnya

17 Juni 2026 8 menit baca
Diagnosis Azoospermia: Pemeriksaan yang Perlu Dijalani
Azoospermia

Diagnosis Azoospermia: Pemeriksaan yang Perlu Dijalani

17 Juni 2026 8 menit baca